Kamis, 20 Oktober 2011

Rekoleksi 1 : Spiritualitas Kelemahan dalam Konteks Hidup Komunitas


Oleh: Fr. M. Patrik, BHK
Tema: Spiritualitas Kelemahan dalam Konteks Hidup Komunitas




Paus Benediktus XVI :
“Menjadi Kristiani bukan akibat dari pilihan etik atau pikiran yang tinggi
melainkan sebuah PERTEMUAN dengan suatu PERISTIWA, SESEORANG, yang memberi hidup suatu cakrawala yang baru dan orientasi yang menentukan”


Kita adalah kristiani karena kita bertemu dengan Yesus yang mengejutkan, dan menjadi titik tolak bagi kita, yang menjadi saat panggilan, jadi bukan karena kaul. Dan pertemuan itu  bisa terjadi sekarang, kita terlalu berpikir tentang dulu dan tidak cukup sadar bahwa Yesus hadir sekarang.  Kita telah mengenal dan percaya akan kasih Allah pada kita. Dan kita telah mengenalNya dan percaya. Pertemuan itu merupakan momen emas dimana di dalamnya kita dapat mengalami perjumpaan dengan peristiwa dan pribadi-pribadi yang menjadikan kita secara lebih riil menghayati iman dalam kebersaman. Dalam perjumpaan/pertemuan itulah menjadi nyata kedalaman iman kita terbangun dan mewujud. Komunitas menjadi sebuah momen pertemuan tersebut.

Anugerah orang sulit
Ada banyak orang sulit dalam komunitas kita, yaitu : kita semua. Untuk orang tertentu kita semua adalah orang sulit. Kita mudah melihat kesalahan pada orang yang tidak kita sukai, padahal orang itu adalah anugerah Tuhan terbesar bagi kita. Karena melalui orang itu kita akan belajar mencintai. Orang itu menjadi saksi bahwa kita belum bisa mencintai, masih punya kesombongan. Jika kita tekun kita akan bisa mencintai dia, jika bisa maka kita sudah belajar mencintai orang sulit lain, karena saya yang berubah, saya semakin mengenal diri sendiri. Dalam arti itu kita semua menjadi anugerah satu sama lain. Dia dipilih Tuhan untuk masuk komunitas bagi saya. Kalau kita dipanggil untuk mencintai semua orang, bukan hanya yang cocok saja. Saya tidak bisa tidak sadar bahwa saya menolak seseorang. Akar semuanya adalah di dalam hati saya, jika kita bisa semakin mengenal diri sendiri. Ini spiritualitas kelemahan, bukan bahwa kita mau menjadi kuat tetapi kita mau mengenal kelemahan sendiri, lalu baru bisa menerima kelemahan orang lain, dari pengalaman hati sendiri. Lalu kita diselamatkan dari dosa terbesar yang adalah mengadili saudara kita. Murid Yesus berasal dari macam-macam golongan, saling tidak cocok, tapi Yesus bilang bahwa kamu harus saling mencintai seperti Aku mencintai kamu. Dia memberi waktu agar kita bisa mencintai seperti Yesus sendiri. Itu panggilan kepada komunio

Komunio – genius feminin
Bagi saya itu berarti suatu kemampuan, rahmat, intuisi, kepekaan untuk membangun komunio. Dulu mungkin itu dilihat sebagai kelemahan wanita, lebih membutuhkan relasi. Tapi kalau kita sadar bahwa kita mau membangun relasi timbal balik, mungkin wanita punya anugerah yang perlu disharingkan dengan kaum pria. Menurut Yohanes Paulus II, dalam tulisannya tentang wanita dan milenium baru, tugas wanita adalah untuk menyebarkan antropologi baru bahwa manusia adalah a relation of being. Komunitas komunio sebagai dasar hidup religius telah ditulis 11 tahun yang lalu. Komunitas religius bukan kumpulan orang kristiani yang mencari kesempurnaan pribadi, secara jauh lebih dalam merupakan partisipasi dalam dan kesaksian akan misteri Gereja, karena komunita religius adalah ungkapan hidup dan perwujudan dari komunio triniter dan Bapa telah menghendaki bahwa pria dan wanita mengambil bagian komunio itu dalam Putera dan dalam Roh. Kita adalah suatu kehadiran misteri trinitas.  Menghadirkan Allah justru dalam komunitas persaudaraan. Hidup religius adalah suatu perjalanan bersama yang turun lewat jalan kerendahan hati mengikuti kristus bersama ke dalam misteri kematian dan kebangkitannya, menemukan bersama kebenaran dan keindahan Mazmur 133: betapa indah dan baiknya hidup dalam persaudaraan. Dengan demikian orang lain akan tertarik lewat kesaksian sesuatu yang berbeda. Mereka akan tahu bahwa kamu adalah muridKu dari cinta kasih satu sama lain. Membangun komunitas  berarti rela menderita, membuka hati dan mengikuti Yesus bersama, bukan masing-masing secara individualis. Berarti saling mencinta dalam  kebenaran, saling membantu bertobat, berani mengoreksi, hidup dalam rekonsilisasi terus-menerus, pengampunan timbal-balik. Wanita biasanya lebih dekat dengan kenyataan penderitaan dalam tubuhnya sendiri tiap bulan. Kita masing-masing komunitas harus percaya bahwa Roh sedang mendampingi dan membimbing kita.

Peranan komunitas dalam formasi:
Ada dokumen tentang formasi dimana dibicarakan semua yang berperan pada kaum muda dalam hidup religius Pertama-tama yang berperan adalah  Roh kudus, lalu Bunda Maria, Gereja, komunitas, dan pembimbing. Teladan dari komunitas menjadi sangat penting bagi para anggota dan calon anggota, jauh lebih penting dari kursus-kursus, dan justru itu yang membentuk. Manusia belajar jauh lebih banyak dari hidup daripada dari buku. Dalam pendidikan yang terlalu rasional, hanya memberikan banyak informasi, tetapi orang tidak menjadi manusia. Itu berarti belajar dari kesalahan daripada menghindari kesalahan. Itu semua jadi masalah dalam banyak tarekat bahwa spiritualitas tidak boleh salah. Orang menjadi takut salah, karena merasa harus baik, harus sempurna. Padahal kesalahan adalah sebuah cara belajar, dalam apa saja. Bagaimana belajar berelasi, belajar berkomunitas, melalui kesalahan. Harus ada ruang untuk kesalahan, karena dimana ada ruang untuk kesalahan ada ruang untuk belas kasihan. Orang boleh menyadari bahwa saya boleh salah dan saya tetap dicintai. Ini semua bagian dari spiritualitas kelemahan. Spiritualitas yang mau mencari kuat itu bukan kristiani.  Dan itu suatu revolusi dan kita harus membiarkan itu terjadi dalam diri kita dan dalam komunitas kita.

Yesus sendiri sejak awal mula karyaNya, memerlukan komunitas. Komunitas para murid yang Dia pilih lahir dari pribadi dengan segala kelemahan, kerapuhan dan kekuatan mereka. Selama hidupnya Yesus mendidik para murid akan pentingnya komunitas. Dalam komunitas yang dibentukNya itu, Yesus mau menekankan bagaimana mereka dapat belajar mencintai daripadanya. Yesus sendiri berpesan,”..sebab aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi.”(Yoh 13:34). Secara lebih nyata, Yesus memberi kesempatan bagi mereka untuk berani menerima kelemahan dan kerapuhan mereka; namun mendorong untuk menyikapinya secara lebih tepat. Thomas yang kurang percaya, Petrus yang sombong emosional, berpikir pendek, iri hati; Yohanes dan Yakobus yang haus posisi dan sebagainya. Yudaspun tetap diberi kesempatan berbuat salah/dosa. Sikap terhadap kelemahan itulah yang paling utama. Yesus tetap mencintai dan meminta muridNya juga mencintai orang yang “lemah dan jatuh dalam kesalahannya”. Rasul Paulus sendiri menyatakan,”dosa semakin bertambah, rahmat semakin berlimpah,”. Dia meyakini, bahwa justru dalam kelemahanlah rahmat Tuhan semakin dirasakannya.” Hal ini bukan berarti kita boleh berbuat salah dan dosa seenaknya, melainkan kita diundang untuk semakin mengenal kelemahan kita, menerimanya tanpa menghindari-mengingkari. Sikap iman yang diharapkan kita diminta melihat kelemahan kita dan menjadikan kita semakin mengenal diri kita semakin mendalam. Kita tidak lari dari penerimaan atas kelemahan kita, melainkan menerimanya sebagai bagian dari diri kita, dan akhirnya kita akan semakin lebih manusiawi. Komunitas yang hendak kita bangun adalah komunitas yang kita pandang sebagai komunitas yang memberi ruang bagiku yang berbuat salah ini; dan tetap merasakan bahwa aku dicintai dan diterima oleh anggota komunitasku tanpa merasa aku dihakimi. Dengan komunitas demikian aku akan merasa bahagia, krasan, senang, at home dengan komunitasku karena aku dibentuk dan didewasakan oleh perjumpaan mendalam dan personal dalam komunitas.

Refleksi Pribadi
1.      Setelah membaca bahan di atas, bagian pokok refleksi manakah yang menarik, menyentuh atau memberikan inspirasi bagi refleksiku? Mengapa?
2.      Bagaimana pengalamanku bila aku merasa “lemah” di dalam kebersamaan komunitasku selama ini?
3.      Sumbangan berharga apakah yang aku rasakan dari komunitasku dalam proses kedewasaanku secara pribadi, rohani dan panggilanku selama ini?




JATI DIRI PARA IMAM DAN KAUM RELIGIUS


Oleh: Mgr. Luis A. G. Tagle

Ia membedakan secara tajam sambil menandaskan bahwa seorang imam lebih terarah kepada kepemimpinan pastoral. Imam ditahbiskan untuk menjadi ‘gembala” di bidang moral, spiritual, dan iman. Ia lebih sebagai penjaga iman, jiwa-jiwa dan jemaat. Ia adalah penjaga, pemerhati dan pengemban jiwa-jiwa, iman dan hidup kristiani melalui pengajaran, pengudusan dan penggembalaan (pelayanan). Tugas imam adalah menjamin bahwa umat tetap menjadi satu kawanan beriman, beribadah dan bersaksi serta melayani. Imam adalah wajah Kristus sebagai seorang ‘gembala’ yang baik (Pastor Bonus)

Sedangkan mereka yang dipanggil menjadi kaum religious adalah mereka yang mau menghayati sungguh-sungguh janji baptisnya dengan mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah saja melalu ‘penguduan secara total’ (total consecration), artinya secara radikal mengikut Yesus dari dekat.
Maka orang yang memilih hidup membiara bukan untuk menjadi pemimpin pastoral, tetapi lebih untuk mengikuti Yesus sambil memberikan kesaksian tentang Yesus  melalui hidup yang sungguh-sungguh milihNya saja. Tak ada yang memisahkan mereka dari Tuhan; baik kekayaan, ambisi, kekuasaan maupun apapun juga.
Kaum religius menjadi tanda yang hidup dari Yesus yang taat, solider dan menyelamatkan orang lain. Religius adalah ‘wajah Kristus’ yang hidup bagi Bapa dan sesamanya, dalam ketaatan, kemiskinan dan kemurnian. Tentu saja semangat hidup religius dapat memperkaya hidup pastoral para imam. Tetapi tidak berarti bahwa imam dan religious adalah sama. Sebab dengan dengan demikian, seorang biarawati yang adalah religius akan  meminta haknya ‘disamakan’ seperti imam.

Uskup Tagle kemudian mengatakan bahwa jati diri (identity) serta hidup para imam dan religious pada abad 21 ini tidaklah lepas dari situasi atau suasana khusus yang menandai abad 21 ini. Ia menunjukan adanya 4 fenomena besar yang menandai situasi abad 21 ini

Pertama, Pengaruh Globalisasi

Dunia dan manusia dewasa ini sangat dipengaruhi oleh globalisasi. Dunia menjadi tanpa dinding, tanpa batas dan menjadi satu keluarga besar. Apa saja yang dominan dan popular akan sangat berpengarug: entah ide, pikiran, gaya hidup, mode, paham, hoby atau kemajuan teknologi. Dunia penuh persaingan, semakin sekuler, konsumtik, materialistic dan individualistic. Juga dunia terpecah-pecah oleh persaingan. Hal baik dan buruk bisa sama-sama berpeluang untuk menaklukkan manusia. Maka tantangan bagi para imam dan kaum religius adalah :
Nilai apa yang kalian tawarkan pada dunia ini dan seluruh penduduknya ? adakah nilai sejati yang bisa mengglobal? Adakah sesuatu yang bisa mempersatukan ?


Kedua, berkurangnya kepercayaan kepada kepemimpinan baik pemerintahan maupun Gereja.

Dimana – mana para pemimpin dibanjiri kritik, protes, caci-maki, bahkan secara tidak santun dan hormat. Kepemimpinan Gereja pun tak lepas dari kritik terbuka semacam ini. Kewibawaan GEreja dipertanyakan. Ingat saja kasus pelecehan seksual. Ingat saa di keuskupan dan di paroki: Umat terinspirasi oleh semangat revormasi. Mereka lebih berani mengkritik terlebih jika kelemahan itu sangat kentara. Maka tantangan bagi para imam dan kaum religious adalah:
wibawa apakah yang Anda punyai: jubah, sleyer, salib? Kuasa status social, keberhasilan financial? Atau kewibawaan karena pelayanan dan pengurbanan?


Ketiga, semakin terkucilnya kaum miskin dan kecil dalam masyarakat.

Sebuah skandal bahwa banyak orang mati kelaparan, busung lapar dan bunuh diri karena tak bisa membayar SPP, dimana letak keberpihakan Gereja pada kaum miskin (option for the poor)? Tantangan bagi par aimam dan kaum religius:
Jadilah orang tua, saudara-I yang ramah (welcoming fathers, brothers, sisters). Jadilah seorang pemberi perhatian (caregivers); jadilah para imam dan kaum religious ada (available) bagi mereka dan mencintai mereka tanpa syarat (unconditional love) ?


Keempat, pencarian akan makna kehidupan dan semangat hidup

Banyak orang hidup tanpa arah dan tanpa makna. Ternyata makanan, sex dan keuasaan bukanlah  nilai abadi yang menenteramkan dan membahagiakan orang. Handphone, villa, plesiran, kekerasan, terorisme bukanlah jawabannya. Orang bosan, stress dan terus mencari makna hidup. Para imam dan religious ditantang untuk menawarkan makna hidup dan nilai spiritual; jadilah garam dan terang dunia (be light and salt of world). Jangan sembunyikan terangmu, garam duniamu dan kepemimpinan pastoralmu, serta jangan sembunyikan dirimu sebagai pengikut Kristus (immitatio Christi). Jadikan dirimu sebagai pengingat Kristus yang hidup (living reminder of Christ). Jadikan dirimu sebagai simbol Kristus yang hidup (let the people look in you the living sign of Christ). Biarlah mereka menemukan kepenuhan hidup dalam hidupmu.!

Situasi konkret dunia dan manusia abad ini menuntut para imam dan religious lebih tampil sebagai pembangun persaudaraan atas dasar kasih. Di samping itu menjadi pemimpin/tokoh teladan karena pelayanan, pengurbanan dan pemberian diri; menjadi pemerhati dan pejuang bagi mereka yang miskin dan terkucil; memiliki kasih sayang dan perhatian (compassionate and caring); menjadi jalan, kebenaran dan hidup (via, vita et veritas); dan menjadi jawaban atas  kebutuhan dan kerinduan banyak orang akan makna hidup.


*) Uskup Keuskupan Imus, Pilipina.
     MISSIO KKI no. 30/XIII april 2011

Kamis, 13 Oktober 2011

KERANGKA SPIRITUALITAS KONGREGASI FBHK


(Dalam terang karisma Mgr. A.I.Schaepman, Jules Chevalier dan St. Vinsensius)

Oleh: Fr. M. Patrik Totok Mardianto, BHK


Wejangan Mgr. A. I. Schaepman kepada para frater ketika mengunjungi mereka:

“Saya harus memiliki frater – frater yang menyadari betul – betul bahwa kepentingan pendidikan dan pembinaan Kristen bagi kaum muda itu melebihi segala-galanya. Saya harus memiliki seorang religius yang tekun, yang unggul dalam susila, dan ketrampilan, yang diilhami oleh pendapat yang murni dan dipenuhi oleh rasa cinta kasih dan pembaktian yang besar kepada tugas yang dipercayakan kepada mereka oleh pemimpin mereka.
Saya membutuhkan lelaki yang cukup menginsyafi murid-murid yang dipercayakan kepada mereka tentang nilai – nilai asasi pendidikan agama dan kesusilaan katolik, dan yang bisa mengajar mereka dengan kata dan contoh bagaimana mereka harus menghayati nilai-nilai itu sesuai dengan kehendak Allah, dan menjalankannya dalam semua situasi hidup.
Singkat kata, saya membutuhkan pendidik – pendidik religius dan guru-guru yang rajin, yang sanggup membentuk watak orang-orang beriman seperti itu, dan memberikan kepada murid mereka semua yang mereka butuhkan untuk jiwa dan hati agar bisa mencapai kebahagiaan di dunia fana maupun akhirat.”

“Barangsiapa memberi, agar ia memberi dengan sederhana
barangsiapa memimpin, agar ia memimpin dengan penuh keprihatinan, dan
barangsiapa berbelaskasih, supaya ia berbelaskasih dengan gembira”.
Papan di pemakaman pendiri Mgr. A.I.Schaepman

PENGANTAR
·   Sesungguhnya, seluruh spiritualitas kongregasi kita sama dengan spiritualitas kristiani, sebab di dalamnya tercakup unsur-unsur teologis ini: Allah, Yesus Kristus, Gereja dan Misinya di dunia, keutamaan-keutamaan.
·   Semangat kongregai tidaklah terlepas dari pengalaman akan Allah dari pendiri kita. Karisma pendiri menjadi “sumber” semangat kongregasi yang kita hayati dalam konteks saat ini.
·   Bertolak dari sejarah dan perkembangan kongregasi dari awal; kiranya perlulah kita mengakui akan adanya “pengaruh” dari karisma Jules Chevalier (pencetus dan pengembang devosi BHK dan Hati Kudus) dan karisma St. Vinsensius a Paulo (bapa kaum miskin dan pelindung perutusan kita)

PROFIL FRATER (Belajar dari pendiri)
·   Ber”kompeten” di bidangnya
-    Sadar akan pentingnya pendidikan bagi kaum muda
-    Sadar akan pentingnya  pendidikan iman, nilai
-    Unggul dalam ketrampilan (sbg guru/pendidik)
-    Sanggup membentuk watak naradidik

·   Ber”kepribadian/berkarakter”
-    Tekun, unggul dalam susila, rajin, integritas (kata dan perbuatan), menjadi teladan

·   Ber”spiritualitas”
-    Niat murni dan rasa cinta yang besar dalam pembaktian diri
-    Mampu memperhatikan dan memberikan apa yg penting bagi hati dan
-    jiwa para murid
-    Menghayati nilai-nilai kerajaan Allah dalam hidup sehari-hari

SIAPA ALLAH
·   Mgr. Schaepman memiliki relasi erat dengan Allah. Dalam pergulatan relasinya dengan Allah, pendiri mengalami Allah yang sungguh amat mencintai jemaatNya yang berada di tanah “ASING”, dalam konteks situasi keuskupan.
·   Allah menganugerahkan kasihNya yang besar dalam diri puteraNya Yesus (bdk. Konst. Ps 2 dan 3). Kehadiran Yesus merupakan anugerah terbesar dari cinta Allah kepada umat.
·   Pendiri senantiasa memiliki pengharapan dan keyakinan meski usaha yang ditempuhnya kurang mendapatkan gerakan yang menggembirakan. Banyak orang meragukan usaha dan keyakinannya, misalnya rekannya Mgr Zwijsen, juga orang – orang pada zamannya. Keyakinan akan Allah yang mendalam itu ditekankan dalam diri frater-frater awali, agar senantiasa memiliki keyakinan yang mendalam akan penyelenggaraanNya, bersama Maria BHK senantiasa berpengharapan.
·   Pendiri merenungkan bahwa jemaat (konsteks jaman itu yang kurang kondusif bagi perkembangan iman) diundang untuk semakin percaya dan mencintai Allah karena  mengalami kasihNya (bdk  konst.ps.66)

 


















SIAPA YESUS
·   Kita senantiasa SETIAP HARI diundang untuk MENYELARASKAN HATI kita agar mampu mengikuti Yesus yang adalah “Jalan, kebenaran dan hidup” (bdk. Konst. 6 Yoh 14:6). Jawaban Yesus atas pertanyaan Thomas merupakan pengharapan orang kristiani bukan kepada metode, atau suatu prosedur melainkan kepada SEORANG PRIBADI. Dialah Yesus. Keutuhan pribadi ditampakkan dari kedalam hatiNya. Kita dan yang kita layani akan sampai kepada Allah melalui dan dalam Yesus sebagai pribadi.
·   Secara eksplisit dalam konstitusi pada bagian awal (menunjukkan kerohanian tarekat) merujuk dua kali siapa Yesus bagi kongregasi. Dialah yang dianugerahkan secara khusus oleh Allah sebagai tanda kasih kepada kita, sebagai Jalan, kebenaran dan kehidupan (ps.3). Masing – masing dari kita diundang untuk sehati-sejiwa dengan Dia yang adalah Jalan, Kebenaran dan Kehidupan.” (bdk ps.6 Yoh 14:6)
·   Yesus, sebagai JALAN; hal ini berarti kita hendak mengikuti JALAN yang ditunjukkan oleh hidupNya. Jalan itu tidak lain adalah jalan pemberian diri total, jalan “KUALITAS HATINYA” yang maha kudus. Dalam konstitusi secara khusus ditunjukkan kualitas HATI yang hendak kita hayati, yakni JALAN KELEMBUTAN HATI dan KERENDAHAN HATI” (bdk konst. ps.6 Mat 11:28-29). Jalan kelembutan hati itu menjadikan semakin banyak orang miskin dekat denganNya. Jalan kerendahan hati itu pula ditunjukkannya dalam sikapnya sebagai GURU yang rendah hati melayani dan membasuh kaki para muridNya pada perjamuan terakhir sebagai “pesan terakhir” (bdk. Konst. ps.15 Yoh 13:12-15) sebelum menjalani jalan kerendahan hatiNya yakni jalan salib.
·   Yesus, sebagai KEBENARAN; hal ini berarti bahwa Yesus sungguh menjadi teladan kemanusiawian kita sebagai pengikut Kristus. Dari hidupNyalah kita dimampukan untuk menjadi pribadi yang berkembang secara utuh dan otentik serupa citraNya (bdk konst. ps 1, 66; Kej 1). Mgr. Schaepman dalam pergulatannya gelisah akan kebutuhan perkembangan iman tunas – tunas muda di keuskupannya. Pendidikan iman dalam sekolah dipandangnya amat penting bagi terbentuknya pribadi kristiani yang sungguh menjadikan Kristus sebagai kebenaran yang utama dalam hidup. Hal ini akan menjadi mungkin bila kita senantiasa terbuka hati untuk sedia dibimbing oleh Roh yang menjiwai Yesus (bdk Konst. ps. 66)
·   Yesus, sebagai HIDUP; hal ini berarti dalam iman, kita hanya mampu menjalani hidup kita dengan menyatukan hidup dengan Yesus sendiri Sang Pokok Anggur (bdk. Konst. ps. 12;Yoh 15:4-11). Dalam diriNya kita memperoleh segala dalam kelimpahannya (Yoh 10:10a). Hidup berkaitan dengan soal relasi hati.

GEREJA DAN MISINYA
·   Misi kongregasi adalah mengambil bagian dalam misi Gereja. Karena kongregasi kita merupakan bagian dari Gereja Yesus Kristus (bdk. Konst. ps. 4 dan 5), maka kita menerima tugas perutusan itu dari Gereja (ps.8). Inti misi perutusan tersebut adalah terwujudnya kehendakNya (ps. 66) yang secara nyata nampak dalam memberi jawaban atas seruan Tuhan dalam setiap hati mereka yang paling membutuhkan (bdk. Konst. ps.20, 21, 67)
·   Dalam konteks misi, kita mengambil inspirasi hidup dari St. Vinsensius sebagai pelindung (konst. ps.9) Kerohaniannya mengajak kita untuk menempatkan “saudara kita yang miskin” sebagai “tuan yang harus kita layani sebab dalam hidup merekalah Kristus hadir” (bdk. Konst. ps. 9)
·   Kita senantiasa diundang, dalam semangat Vinsensius memenuhi undangan Yesus,”untuk mewartakan kabar baik kepada kaum miskin” (bdk bdk. Konst. ps. 68;Luk 4:18)
·   Secara lebih khas kongregasi kita diutus untuk melayani pendampingan pembentukan HATI kaum muda demi kepenuhannya dalam Allah melalui pendidikan dan pengajaran (bdk. Konst. ps. 8,64, 66). St. Vinsensius sendiri menyapa pengikutnya,”pendidikan merupakan sarana efektif untuk mengangkat orang miskin dari kemiskinan mereka”.
·   Pendiri kita sejak awal mula sadar betul bahwasannya pelayanan kasih kepada kaum muda dalam bidang pendidikan dan pengajaran merupakan wilayah pelayanan turut ambil bagian  “merajut hati” bersama Allah dalam RohNya. St. Yoh. Bosco menandaskan bahwa “pendidikan itu soal hati, maka kita tidak akan dapat melayani dalam bidang pendidikan bila Allah sendiri tidak memberikan kuncinya”. Setiap frater senantiasa diundang untuk sadar akan hal ini, yang juga dipesankan oleh pendiri kita (lih. wejangannya). Tidaklah keliru bahwa pendiri mempersembahkan kongregasi yang didirikannya dalam teladan dan pendampingan Maria Bunda Hati Kudus, sebab dialah teladan ‘mendidik dengan hati’.

·   MARIA, dengan gelar BUNDA HATI KUDUS
§ Maria BHK dalam konstitusi
-     Teks penting selain teks lainnya dari kisah Maria, adalah kisah perjamuan di Kana (Yoh 2:1-11) dan kisah Maria di bawah salib (Yoh 19:25-27).
-     Maria yang memiliki “relasi hati” yang terpaut mendalam dengan Hati Yesus (Yoh 2:1-11), dan dengannya Maria memiliki kualitas hati yang sederhana, mengabdi, mengerti, percaya, penuh kepasrahan (bdk. Konst. ps.27,47-52, 63)  
-     Maria teladan kesederhanaan hati mengungkapkan cinta dan kebaikan Allah (Konst. ps. 52), terutama dalam kasih sayangnya yang manusiawi (Konst. ps.48), penuh pengabdian (Konst. ps.45,47,49,dan 63)
-     Maria yang menunjukkan dan menghantar kita kepada Hati Puteranya yang lemah lembut dan rendah hati, (Konst ps 6)
-     Maria yang menghantar kita kepada “Sumber kekayaan hati Yesus”, bagi kita (bdk Konst. ps. 51) sekaligus menjadikan kita anaknya dalam relasi keibuannya; dalam cinta Hati Puteranya Yesus (Yoh 19:25-27).
§ Sosok Maria dan pandangan teologis dari ketiga model patung BHK; pertama, Yesus berdiri di depan Maria. Kedua, Yesus kecil digendong ibuNya. Dan ketiga, Yesus berada di kayu salib dengan IbuNya yang memandang ke Hati Yesus dengan tangan terbuka keatas dan kebawah (Maria BHK Kalvari).

§ Maria dalam perspektif keutamaan kongregasi (lampiran tersendiri)
§ Maria dalam pengalaman iman. Bunda Maria dengan gelar Bunda Hati Kudus memiliki arti istimewa bagi setiap frater. Maka kita senantiasa diundang untuk merefleksikan hidupnya. Dengan demikian kita akan mengalami betapa kayanya inspirasi yang boleh kita timba dalam relasi keibuannya. (bdk. Konst. ps.47)

KEUTAMAAN
·   Keutamaan kongregasi yang sejak awal kita hayati sebagai frater adalah Cinta kasih, ketaatan, ingkar diri,  dan kesederhanaan sebagai ciri khas semangat kita, dimana dengannya kita dimampukan untuk semakin dekat dengan kaum miskin (bdk konst. ps. 69)
·   Cinta kasih
·   Ketaatan
·   Ingkar diri
·   Kesederhanaan