Kamis, 20 Oktober 2011

Rekoleksi 3: Kristus Selalu Hadir


 Kristus Selalu Hadir
Oleh : Fr. M. Patrik Totok Mardianto, BHK

MADAH
Meski Kristus ada di setiap waktu
Namun jangan tunda janganlah menunggu
Carilah wajahNya sekarangpun juga
Tanpa menantikan senja

Kristus sungguh ada dalam diri kita
Meski kita hina meski kita papa
Carilah wajahNya serukan namaNya
Kita pasti dibimbingNya

Ya Bapa surgawi tolonglah hambaMu
Agar mengikuti Roh Kudus selalu
Hingga hari ini kami sungguh mampu
Mencari wajah PutraMu. Amin

Renungan :

Kita yakin dan percaya bahwa Kristus ada, hadir dan selalu menemani kita setiap perjalanan waktu yang kita lalui. Teristimewa perjalanan pembaktian hidup kita dalam menjawab panggilanNya. Sahabat pendoa menyajikan ajakan pada kita untuk tanpa menunda atau menunggu. Menunda dan menunggu kerap menjadi pilihan kita ketika kita sendiri tidak merasa dekat dengan hati kita sendiri.  Kita merasa bahwa ketika kita tenggelam dalam “kesibukan” justru menjadikan kita enggan. Situasi batin ini membawa tawaran bahwa doa menjadi tidak penting dan kurang mendapat prioritas/tempat. Sehingga sikap menunda dan menunggu menjadi sikap kegemaran banyak orang yang kurang berani masuk ke dalam dirinya sendiri.  Ketika hati menjadi kosong dan kering barulah hidup menjadi tiada arti, usaha nampaknya melelahkan, semua yang dijalani rasanya tiada memuaskan hati. Barulah kita merasa bahwa selama ini hati kita tak pernah kita perhatikan. Kita diundang untuk,”mencari wajahNya sekarang tanpa menantikan senja”.

Ada seseorang di dalam rumah mendapatkan pintu rumahnya diketok. Suara itu keras sekali. Sang pemilik rumah bergegas menjawab,”siapa”, suara itu menjawab,”aku”. Dia cepat-cepat membuka pintu tapi di luar tidak ada seseorang pun. Suara itu muncul, “aku”, dia buka pintu lagi tidak ada. Sejenak tenang ia pelan-pelan mendengar, ternyata suara itu ada di dalam rumahnya sendiri.  
Kristus sudah hadir dalam hati kita, dan kita temukan manakala kita kita segera menemukannya wajahNya dalam doa kita, relasi denganNya. Kristus selalu menunggu kita untuk menanti kita membuka hati untukNya.

KehadiranNya dalam diri kita bukanlah sebuah janji kosong belaka. Yesus sendiri berjannji akan selalu menyertai kita. Kita perlu meyakinkan diri akan hal itu sebab kerap kita kerap kali ragu sehingga lebih memilih menunda untuk berjumpa denganNya. Ekspresi menunda kerap muncul dalam pelbagai bentuk mulai dari perasaan malas, enggan, sibuk yang  tidak ada arahnya, menghabiskan waktu tanpa tujuan, bahkan tidak mampu membuat prioritas dalam hidup juga termasuk. Selain itu tenggelam dalam kesibukkan bisa menjadi godaan dan kerap kita berasionalisasi demi pelayanan. Perjumpaan denganNya selalu berdimensi transformatif, memperbaharui. Ketika kita sedia mencari wajahNya dan berjumpa, maka kita akan diajak untuk melihat wajah kita sendiri. Meski kita hina meski kita papa, Dia selalu menerima kita. Hal yang kerap terjadi, karena berdimensi transformatif, kita merasa belum siap untuk melihat diri kita sendiri sehingga cenderung melarikan diri dari wajahNya dan wajah kita sendiri. Doa mengajak kita lebih dekat denganNya dan sekaligus mengajak kita melihat wajah kita sendiri. Dengan berdoa yang otentik maka kita menjadi semakin mengenal diri kita sendiri di hadapanNya. Semakin kita mencari wajahNya semakin kita didorong semakin rendah hati, sebab kita bukanlah segalanya dihadapanNya. Kesibukkan tidak dapat menjadi alasan untuk menghindari usaha mencari wajahNya dalam doa. Sibuk tanpa dekat dengan wajahNya akan membelokkan pelayanan kita menjadi usaha mencari wajah kita sendiri di hadapan sesama. Kita mencari pemenuhan diri diantara orang-orang yang kita layani. Kita lagi kita perlu menyerukan namaNya, karena Dia akan pasti membimbing kita. Percaya akan hal itu.

Kita perlu rendah hati bahwa kita kerap kali gagal. Secemerlang apa saja usaha kita bila tidak dibarengi dengan berkatNya, maka semua akan sia-sia. Kita mudah jatuh dalam kelemahan dan sulit masuk ke dalam perjalanan menuju hati kita. Maka kita boleh berharap akan kasihNya untuk menganugerahkan RohNya sendiri agar kita dimampukanNya mencari wajah PuteraNya. Kesediaan diri untuk menerima bahwa diri kita ini lemah menjadikan kita senantiasa bergantung akan rahmatNya sendiri.. Panggilan yang kita jalani ini merupakan anugerah istimewa yang diberikan kepada kita. Tiada dari diri kita yang pantas dibanggakan. Semua semata-mata berkat rahmatNya. Kita mohon kekuatan dari Allah sendiri agar kita mampu menyanggupkan diri hidup sesuai dengan panggilan kita yang kita terima dariNya. 


Tidak ada komentar: