Kamis, 27 Oktober 2011

Rekoleksi 6: Matiraga merupakan salah satu ciri penanda kita sebagai Frater BHK

Oleh : fr. M. Patrik Totok Mardianto, BHK

Matiraga merupakan salah satu ciri penanda kita
sebagai Frater Bunda Hati Kudus


”Barangsiapa ingin mengikuti Aku, ia harus menyangkal diri dan
 memikul salibnya setiap hari (Mat16:24).


A.   Hakikat Matiraga

      Sabda Yesus di atas diucapkan dan ditujukan secara kepada para muridNya.  Dari sabda tersebut dapat kita temukan dua hal penting dan mendasar dalam konteks ”usaha” mengikuti Yesus;-menjadi muridNya.
Pertama, jalan utama yang harus dilalui untuk menjadi murid tidak lain dan tidak bukan adalah menyangkal diri.  Inilah arti pertama dan utama akan matiraga. Menyangkal diri tidak lain adalah menyangkut penyangkalan atas penilaian diri sendiri, kehendak kita sendiri, menyangkal kesukaan inderawi kita sendiri, menyangkal (tidak terlekat/terikat) famili dan keluarga kita sendiri. Yesus sendiri telah menghidupi sabdaNya itu. Dalam kitab suci kita menjumpai peristiwa-peristiwa hidup dimana Yesus sungguh bermatiraga/ingkar diri.  Dalam peristiwa pencobaan di gurun, kita menemukan bahwa sejak awal karya hidupnya, semua semata-mata bukan untuk dirinya sendiri. Yesuspun tidak terlekat pada hubungan / ikatan manusiawi kekeluargaan, namun justru menawarkan ikatan rohani dalam Allah. Hal ini nampak jelas ketika diriNya dikunjungi ibuNya. Yesus juga tidak terlekat pada materi. Dia sanggup meninggalkan segala-galanya, bahkan Yesus tidak memiliki apa-apa. Tempat untuk sekedar menaruh kepalaNya pun tidak. PuncakNya adalah ketidaklekatannya pada hidup yang dimilikinya sendiri. Yesus menyerahkan seluruhNya kepada umat pendosa sebagai tebusan. Kita dapat mencari sendiri apa saja yang lain seputar matiraga/ingkar diri Yesus.

Kedua, matiraga adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Matiraga adalah suatu usaha olah hidup dimana hal itu dilakukan sebagai suatu sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.  Yesus sendiri mengalami sendiri akan matiraga dalam hidupNya sebagai jalan untuk semakin dekat dengan Allah BapaNya.  Empat puluh hari lamanya Yesus berpuasa, selama masa itu Yesus dicobai setan tiga kali dan Yesus pun sanggup teguh akan gerak hatiNya untuk semakin dekat dengan Allah BapaNya.

B.    Tujuan Matiraga

Tujuan dari matiraga tidak lain adalah bahwa segala hal yang kita lakukan dan jalankan hanya untuk mencintai Allah, untuk menyesuaikan keputusan kita pada Allah, menyerahkan kehendak kita kepada Dia yang harus kita taati.

Untuk mencintai Allah
Finalitas atau tujuan akhir hidup pembaktian kita tidak lain adalah kebersatuan dengan Allah sendiri yang mencintai kita lebih dahulu. Maka dalam konteks ini, salah satu tujuan dari usaha matiraga kita adalah bukan untuk kepentingan ragawi namun semata-mata demi mencintai Allah yang memanggil. Hanya dengan alasan inilah matiraga yang kita lakukan mampu menampilkan makna rohani.

Untuk menyesuaikan keputusan kita pada Allah
Keotentikan kita dalam menghayati panggilan kristiani dan religius adalah sejauhmana kita membuat keputusan/pilihan atas hidup kita. Hidup kita akan menjadi semakin dewasa dan berkembang bukan semata-mata hanya menuruti segala keinginan semata, sebab tidak semua keinginan harus kita lakukan dan wujudkan. Hidup dan panggilan kita pertama-tama merupakan pilihan. Maka dengan matiraga, kita berusaha agar kita mampu menyesuikan keputusan kita pada Allah yang telah memulai penggilan kita.

Untuk menyerahkan kehendak kita kepada Dia yang harus kita taati.
Akhirnya, karena panggilan kita pertama-tama merupakan insiatif dari Allah sendiri,maka sebagai yang terpanggil kita menyerahkan kehendak kita kepada Dia yang harus kita taati. Dengan matiraga/ingkar diri kita didorong untuk secara batin berserahdiri kepada kehendakNya. Yesus sendiri telah memberikan teladan dalam hidupNya, misalnya pada saat-saat terakhir menjelang penyaliban. Yesus berdoa di taman Getsemani. Dalam doaNya Yesus menyerahkan secara total kepada kehendakNya. ”Murid pertamaNya”, yakni Bunda Maria telah mewujudkan semangat yang sama. Bunda Maria telah memberikan teladan, misalnya kesediaannya mengandung Sang Putra Allah.

C.   Urgensi / pentingnya Matiraga untuk Hidup Panggilan dan Rohani

Bertolak dari sabda Yesus di atas, nampak sekali terdapat penekanan khusus  Yesus . Dalam sabdaNya terucap kata “harus” dan “setiap hari” untuk senantiasa menyangkal dan memanggul salib mengikutiNya. Kata ”harus” mengandung makna : suatu ungkapan penekanan khusus, tidak seperti biasa, ada unsur kewajiban, perintah. Sedangkan kata ”setiap hari” mengandung maksud bahwa sikap dan tindakan tersebut dilakukan secara serius, tidak ditunda-tunda, mempunyai intensitas, kedalaman. Jadi kedua sikap tersebut merupakan ”prasyarat” yang diajukan Yesus bagi siapa saja yang ingin mengikutiNya.  Karena sebagai prasyarat maka konsekuensinya apabila tidak terpenuhi maka pengikut tersebut tidak akan mampu memenuhi harapan Dia yang memanggil; Allah dalam diri Yesus

Selain itu, matiraga menjadi olah lahir yang perlu dilakukan untuk memasuki kerohanian yang mendalam. Berabad-abad lamanya dalam tradisi monastik, matiraga menjadi cara hidup yang harus dilakukan demi tercapainya sebuah kematangan rohani. Pada masa-masa itu matiraga bukan dalam pengertian positif; namun sebatas menyesah tubuh/raga atau membuat raga ”mati”.  Seolah-olah raga ini jelek, buruk dan menghalangi hidup rohani. Jadi pada masa itu aspek raga dipandang sebagai kenyataan negatif dan hal inilah yang masih ditekankan. Pandangan kerohanian terbaru mengemukakan, bahwasannya kita memiliki kesatuan tubuh-jiwa yang tak tepisahkan. Kenyataan yang satu dan tak terpisahkan. Sekarang ini lebih banyak menggunakan istilah ”ingkar diri”; dimana istilah tersebut tidak semata-mata bersifat ragawi semata. Dengan ingkar diri tersebut (dari kelekatan keinginan diri, kepentingan diri, kehendak diri, keinginan ragawi, keluarga) kita terbantu untuk semakin terarah kepada dimensi kerohanian kita. Hal ini sangat cocok dengan hakikat kita  sebagai makhluk spiritual / rohani.

Dengan ingkar diri kita terodong untuk rendah hati di hadapan Allah sendiri sebagai penyelenggara hidup. Sebab dengan semangat kerendahan hati itu kita mampu menemukan Dia dan memahami kehendakNya atas hidup kita. Keutamaan ini mengandaikan keberanian kita untuk ”MENGIKIS CINTA DIRI” yang negatif. Cinta diri yang negatif berarti kita terlekat pada keegoan diri yang tinggi yang membuat kita tidak peka bahkan buta akan kenyataan di luar diri kita. Padahal dalam kenyataan itulah hadir sapaanNya dan kehadiranNya terutama dalam diri sesama kita.  


D.   Matiraga adalah salah satu ciri penghayatan hidup kita

 “Ingkar diri mengharapkan bahwa kita hidup tidak hanya untuk diri kita sendiri, tidak menjadikan diri kita pusat perhatian, tetapi mencari harga diri dan pengembangan diri di dalam pengabdian kepada Allah dalam karya ciptaanNya dimana tidak ada sesuatu seorangpun yang kita anggap remeh.”
Konstitusi Ps. 72

Konstitusi kita secara jelas mengangkat salah satu ciri penanda penghayatan kita adalah ingkar diri/matiraga. Dengan sikap dan keutamaan itu kita : Tidak menjadikan diri kita pusat perhatian melainkan kita semakin terdorong kepada penghayatan “HIDUP UNTUK ORANG LAIN”-  a man for others. Hal ini menjadi penanda bahwa kita adalah pribadi-pribadi yang dibaktikan kepada Allah dan sesama. Semangat dan keutamaan ini sangat sejajar dengan penghayatan Maria Bunda Hati Kudus (versi III) yang terbuka tangannya satu terarah pada hati Yesus yang terlukai namun menyembuhkan, sedangkan tangan yang lain kepada sesama, berarti menjadi saluran rahmat dan kasih Allah sendiri. Hidup bakti kita pertama-tama bukan demi  kesenangan diri kita sendiri melainkan untuk sesama terutama yang paling membutuhkan. Menurut Paulus, “Kristus juga tidak mencari kesenanganNya sendiri” (Rm 15:3).


Dengan matiraga/ingkar diri, seorang frater BHK akan mengusahakan harga diri yang sehat. Harga diri yang sehat berarti bahwa kita pertama-tama kita menyadari secara penuh bahwa kita memiliki keunikan dan keluhuran sebagai anugerah cinta kasih Allah sendiri. Dan anugerah itu sedemikian istimewanya sehingga mau-tidak mau akan terdorong untuk mensyukuri dan mengembangkannya. Pemahaman yang keliru akan mengarahkan ketidaksadaran kita akan kenyataan itu. Selanjutnya, hidup kita akan terseret pada penghayatan yang hanya sekedar ingin ”mendapatkan’ pengakuan, penghargaan, sanjungan, pemuasan, penerimaan dari orang lain. Penghayatan seperti ini nampak dalam pribadi yang sekedar ”menikmati” hal-hal yang dilihatnya dan hanya sekedar didorong oleh keinginan-keinginan semu. Buah dari ketidakmampuan mensyukuri harga diri ini adalah kesunyian, keterasingan, ketakutan, kebingungan, kesendirian, ketidakbebasan.

Sanggupkah aku mewujudkan keutamaan tersebut yang tidak lain adalah penanda dari seorang religius frater BHK ?
Seperti pejelasan sebelumnya, menyangkal diri tidak lain adalah menyangkut penyangkalan atas penilaian diri sendiri, kehendak kita sendiri, menyangkal kesukaan inderawi kita sendiri, menyangkal (tidak terlekat/terikat) famili dan keluarga kita sendiri. Beberapa aspek dari matiraga/ingkar diri tersebut nampaknya kerap memunculkan pertanyaan bagi kita sebagai anggota tarekat frater BHK. Salah satunya adalah Mungkinkah itu semangat / keutamaan matoraga diwujudkan dalam diri masing-masing pribadi atau secara komunal/kebersamaan ? Jawaban atas pertayaan tsb hanya ada dalam hati kita masing-masing.

Kenyataan masyarakat dimana kita hidup dan hadir saat ini tidak dapat kita abaikan begitu saja. Religius jaman sekarang (termasuk Frater BHK) tidak dapat berperan hanya sebagai ”Kuda berkaca mata penarik pedati”. Kuda penarik pedati itu tidak tahu keadaan luar, yang dia tahu hanya yang ada di depan matanya, pandangannya. Dia memiliki rasa minder akan dirinya karena tidak memakai celana dan malu sehingga tidak mau bergerak dan sulit memahami keadaan sekelilingnya.  Sebagai religius kita tidak bisa hanya diam dan hanya tahu isi rumah saja tanpa tahu dan memahami keadaan lingkungan dan masyarakat. Masyarakat kita sekarang sudah sedemikian kompleksnya dinamikanya. Banyak hal negatif yang mengenakkan kita, meninabobokan kita dan memanjakan kita. Tidak mengherankan bila kita sulit menghayati keutamaan ingkar diri. Bila kita berani memilih itu berarti kita berani menentang arus. Namun bila kita berani menentang arus dengan menyangkal diri berarti kita ambil bagian dalam misi Yesus Kristus. Dengan ingkar diri kita semakin dapat mendengarkan jeritan masyarakat yang kerap tidak didengar oleh kaum tuli. Dengan ingkar diri kita semakin dimampukan untuk semakin dekat dengan orang miskin dan menangkap kehadiran Yesus di dalam hidup mereka.

Bila pilihan kita jatuhkan kepada ketidakpedulian akan sangkal diri, maka kita terarah kepada penghayatan kering dan semu. Apa yang kita lakukan kelihatan baik dan suci namun kerap dibalik itu semua, kita sekedar mencari diri kita sendiri. Kita akan mudah memaafkan diri dan kurang mencintai diri secara sehat. Allah memperoleh urutan kesekian di belakang. Kita dengan gampang akan terlekat pada kelekatan-kelekatan kebutuhan psikologis, kelekatan pada keluarga yang tidak sehat bahkan menghancurkan, kesukuan, ketidakpedulian terhadap orang miskin. Ujung-ujungnya penghayatan religius kita semata-mata hanya mencari kepentingan diri sendiri. Kita jauh dari harapan Yesus yang memanggil kita, ” Barangsiapa ingin mengikuti Aku, dia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari.”  Sudikah kita kembali menegaskan apa yang yang menjadi ciri khas kita ?

Bahan refleksi pribadi
  1. Poin apa dari bahan refleksi ini yang menyentuhku dan menggugah penghayatan panggilanku ? mengapa ?
  2. Sudahkah aku berusaha mewujudkan salah satu ciri khas keutamaan kongregasi ”matiraga/ingkar diri” ? mengapa ?
  3. Pengalaman konkret apa yang sekiranya aku pandang sebagai wujud atau  latihanku  dalam ingkar diri ? (bila memang ada)
  4. Kalau memang sulit ingkar diri; apa alasannya aku sulit ingkar diri ?
  5. Kalau memang matiraga/ingkar diri masih sulit; apa yang menggerakkan dan mendasari  aku dalam bertindak selama ini ?
  6. Pengalaman konkret apa yang menunjukkan bahwa aku sulit / tidak ingkar diri ? 




Selamat Rekoleksi

Tidak ada komentar: